Artikel As-sunnah

Friday, March 23, 2012

Artikel As-sunnah


Sanad Hadits Pada Syi’ah

Posted: 22 Mar 2012 08:47 PM PDT

Sanad Hadits Pada Syi'ah

Pada edisi yang lalu, Anda sekalian telah mengikuti penanya yang menafikan pembakaran 'Ali radiyallahu anhu terhadap Syi'ah (pendukung) beliau yang telah ditetapkan dalam kitab-kitab mereka. Akan tetapi yang menarik perhatian darinya adalah  perendahan dia terhadap kitab-kitab hadits Ahlussunnah.
Tanpa melihat apakah dia orang yang mengethui ilmu hadits menurut Ahlussunnah ataukah tidak, maka mari kita mengenal ilmu hadits pada Syi'ah agar kita bisa melihat apakah ada ilmu hadits yang sebenarnya pada Syi'ah atau tidak.



Atas dasar ini, saya katakan kepada setiap orang yang tertipu dengan agama ini, bahwa Syi'ah imammiyyah (iman dua belas), tidak ada pada mereka satu sunnah pun, maksudnya tidak ditemukan pada mereka hadits-hadits dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Bahkan kitab-kitab hadits mereka, yang mereka amalkan dengan meriwayatkannya, adalah hadits-hadits yang dikatakan melalui lisan Abu 'Abdillah, Ja'far as-Shadiq, iman keenam pada mereka.

Adapun sanad hadits-hadits, maka sanad tersebut mengundang gelak tawa, cemoohan, dan keanehan. Bagaimana seseorang masuk agama Syi'ah, sementara mereka tidak mengetahui sama sekali ilmu hadits; sebuah agama yang semuanya adalah kerugian, dan permainan serta kesia-siaan. Oleh karena itu,  tidak memeluk agama ini  orang  yang berakal dan berilmu. Akan tetapi yang masuk hanyalah orang yang tidak nalar, tidak berilmu, atau orang yang mencari harta atau kedudukan.

Agar saya tidak terlalu panjang dalam sisi ini, maka biarkanlah kita menghadirkan bersama sanad-sanad Syi'ah, dan periwayatannya dengan disertai komentar bahwa itu tidak dimaksudkan untuk mengajak tertawa, sekalipun benar-benar layak mengundang tawa, akan tetapi ini adalah sebuah ajakan untuk memperhatikan dan merenungkannya. Mudah-mudahan Allah Subhanallahu wa Ta'ala menuliskan hidayah bagi setiap orang yang mencari kebenaran dan orang-orang yang tertipu dengan agama Syi'ah.
Kami akan memilih kitab Syi'ah yang terpenting dan paling shahih dalam hal hadits, yaitu kitab Ushulul Kafi yang kata mereka setara dengan al-Bukhari menurut ahlussunnah.
Kita akan mempelajari kondisi sanad periwayatannya yang aneh, yang tidak akan dipercayai oleh akal. Maka diantara rlwayat-riwayat dalam kitab Ushulul Kafi, adalah sebagal berikut:

1.  Diriwayatkan beberapa hadits dan seorang laki-laki (Siapa laki-laki ini? tidak ada seorang pun yang mengetahuinya)
2.  Dari seorang laki-laki penduduk Bashrah (siapa dia, dan apa biografinya, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya)
3.  Dari seekor keledai (tentu saja, tidak perlu kita tanyakan siapa keledai ini, dan apa biografinya, akan tetapi cukuplah Syi'ah merasa terhormat dengan meriwayatkan hadits-hadits mereka dari seekor keledai)
4.  Dari sebagian sahabat-sahabat kami (siapa sahabat-sahabat tersebut, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya)
5.  Dari sejumlah sahabat-sahabat kami (siapa sahabat-sahabat tersebut, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya)
6.  Dari seorang  laki-laki dari Thabaristan, dan disebut Muhammad (Iihatlah kalimat, 'disebut    Muhammad' lalu siapa Muhammad ini, apa biografinya? Tidak ada seorang pun yang tahu)
7.  Dari  seseorang yang menyebutkannya (ini termasuk teka-teki sanad yang ada pada syi'ah)
8.  Dari orang yang mengabarkannya (ini juga teka-teki sanad pada Syi'ah)
9.  Dari seorang laki-laki penduduk Madinah (siapa dia, dan apa biografinya, hingga kita bisa mengetahui ketersambungan sanad? Tidak ada seorang pun yang tahu)
10.  Dari sebagian sahabat-sahabat kami, saya kira dia adalah as-Sayyari (lihatlah kepada kedetailan sanad, perhatikantah agama ini yang berdiri di atas persangkaan)
11.  Dari seorang laki-laki penduduk Kufah yang dipanggil Abu Muhammad (Siapa dia dan biografinya, tidak ada seorang pun tahu, kemudian perhatikanlah kedetilan Syi'ah dalam menetapkannya)
12.  Dari sebagian sahabatnya dari penduduk Iraq (Allahu akbar, inikah sanad yang wajib bagi kita untuk mengambil agama kita darinya, dan kita yakin akan keshahihannya?!)
13.  Dari seorang laki-laki dari penduduk Halwan (!)
14.  Dari sebagian perawinya (!)
15.  Dari orang yang meriwayatkannya(!)

Siapa yang bisa percaya bahwa ini adalah keadaan mayoritas periwayatan Syi'ah?
Jadi, dengan segenap kemudahan, menjadi jelaslah bahwa mayoritas sanad-sanad periwayatan Syi'ah mengandung sanad-sanad seperti ini yang diriwayatkan dari orang-onang majhul (tidak diketahui). Maka bagaimana para pengikut suatu agama mengambil agama mereka dari orang-orang majhul (tak diketahui) yang menukilkan untuk mereka bagaimana mereka beribadah kepada Rabb mereka?!
Maka jika ini adalah keadaan hadits yang paling shahih pada Syi'ah, maka bagaimana keadaan kitab-kitab mereka yang lain?!

Sesungguhnya termasuk perkara yang telah kami tinjau, kami simpulkan bahwa para ulama Syi'ah tidak mengakui sanad-sanad ini. Adakalanya karena mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan, atau bahwa mereka mengetahui bahwa agama mereka tidak memiliki ushul dan qawa 'id dalam ilmu yang agung ini (ilmu hadits, red). Dan sesungguhnya, termasuk bukti-bukti jelas, lagi terang, yang tidak menerima keraguan sama sekali bahwa para ulama Syi'ah tidak mengakui sanad adalah apa yang kami temukan dalam kitab NahjuI Balaghah yang mengandung khutbah-khutbah yang dinisbahkan kepada 'All bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu, yang telah dikumpukan oleh as-Syanif ar-Ridha. Jika kita rnengetahui bahwa ar-Ridha dilahirkan pada tahun 359 H, dan dia melakukan pengumpulan khutbah khutbah 'Ali radiyallahu anhu dalam kitab yang dia bernama NahjuI Balaghah sekitar tahun 400 H, dan seandainya jika juga tahu bahwa 'Ali radiyallahu anhu mati syahid pada tahun 40 H, maka tersingkaplah bahwa antara Ali radiyallahu anhu dan ar-Ridha terpaut sekitar 360 tahun.

Jadi, bagaimana mungkin ar-Ridha mampu mengumpulkan khutbah-khutbah 'Ali radiyallahu anhu dalam kitab tanpa mengalami tahrif (penyimpangan, pemalsuan), apalagi khutbah-khutbah tersebut tanpa sanad-sanad. Bahkan ar-Ridha mengisyaratkan dalam permulaan setiap khutbah, 'Dan di antara khutbah beliau 'alaihiss salam." Bahkan yang lebih tercela dari ini adalah bahwa kitab tersebut paling shahih setelah al-Qur'an menurut $yi'ah!

Al-Amin berkata dalam A'yanus Syi'ah, 'Sesungguhnya Nahjul Balaghah, bersamaan dengan keshahihan sanad-sanadnya dalam berbagal kitab, dan keagungan kedudukan, keadilah, dan ketsiqahan pengumpulnya, maka tidak membutuhkan saksi atas keshahihan penisbatannya kepada Imamul Fashahah wal Balaghah, bahkan dia memiliki berbagai penguat darinya
Dia juga berkata dalam halaman yang sama,'Kami katakan bahwa Nahjul Balaghah tidak membutuhkan penguat, bahwa dia sendiri yang menyaksikan dirinya sendiri sebagaimana matahari tidak membutuhkan saksi bahwa dia adalah matahari' (A'yanus syi'ah, juz I bab Kalamun fi NahjiI Balaghah, hal. 79)
Demikianlah al-Amin Iari dari penetapan keshahihan penisbatan  khutbah-khutbah yang ada dalam kitab tersebut kepada Ali radiyallahu anhu, meninggalkan metode ilmiah, lalu bersaksi dengan ucapan seperti ini yang berhak untuk ditulis dengan air radiator.

Sungguh, benar-benar termasuk perkara yang menggelikan adalah bahwa datang seorang dan Syi'ah kemudian memberikan komentar atas kitab-kitab hadits pada Ahlussunnah yang mereka (ahlussunnah) itu telah meletakkan dasar-dasar ilmu hadits, dan bersendirian (teristimewakan) tanpa pemeluk agama-agama manapun, dan tanpa kelompok kelompok sesat yang menisbahkan dirinya kepada Islam dengan dusta. Karena sesungguhnya perkara pertama yang dilihat oleh ahli hadits pada ahlussunnah adalah sanad, dan sisi ketersambungannya. Yang demikian itu adalah demi menjauhkan dan berbagai perkara yang menggugurkan, seperti mursal, munqathi, mudallis, khafiy, dan mu'allaq. Kemudian setelah itu melewati langkah berikutnya, yaitu mengetahui para perawi dan tingkat kejujuran mereka, yaitu masalah jarh wat ta'dil dan segala perkara yang dikandungnya dan pengenalan ilmu sejarah para perawi, dan ilmu nama-nama para perawi. Dan saat ada kontradiksi pada sebagian hadits, maka dilihatlah matannya. Seluruh ilmu yang agung ini, dikhususkan oleh Allah bagi ahlussunnah wal jama'ah. Maka jadilah agama mereka adalah agama yang benar, sementara selain mereka tersesat di dalam lautan kegelapan dan kesesatan.

Maka segala puji bagi Allah Subhanallahu wa Ta'ala yang telah memberikan nikmat mengikuti agama yang memiliki kaidah-kaidah rinci, dan ushul yang bersih dalam mengetahui kebenaran dan kebatilan kepada kita. (AR)*

Sumber: Majalah Qiblati edisi 01 Tahun VII

Fatwa 8 Ulama Salaf yang Mengkafirkan Syi’ah Rafidhah

Posted: 22 Mar 2012 08:46 PM PDT

Fatwa 8 Ulama Salaf yang Mengkafirkan Syi'ah Rafidhah


Oleh: Ahmad 'Isy Karim 

Kitab Al-Sunnah oleh Al-Khalal/ dar-alfarouk 

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Syi'ah termasuk sekte Islam yang sudah berusia ratusan tahun. Sejak abad-abad awal Islam sudah menunjukkan jati dirinya. Namun dalam kurun waktu yang lama tersebut, kebencian mereka kepada pihak-pihak lain tetap eksis. Mereka mencela, mencaci, menfasikkan, dan mengafirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan 'Aisyah. Bahkan mereka menyatakan kekafiran mayoritas sahabat. Selanjutnya mereka mengafirkan dan memusuhi setiap orang yang memuliakan para sahabat di atas. Sehingga dari sini, para ulama Islam menghukumi mereka sudah keluar dari Islam berdasarkan keterangan yang jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah tentang keutamaan para sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.



Pendapat Tentang Kafirnya Sekte Syiah

Kami tidak menghakimi. Tugas kami hanya menyampaikan keterangan dan menunjukkan bukti. Dan ternyata didapati, yang berpendapat bahwa Syi'ah itu kafir adalah para Imam-Imam Besar Islam, seperti: Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari dan lain-lain. Berikut ini beberapa pendapat dan fatwa para ulama Islam mengenai golongan Syi'ah Rafidhah yang disebut dengan Itsna Asy'ariyah dan Ja'fariyah.

Pertama: Imam Malik

Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: "Saya mendengar Abu Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata:

الذي يشتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ليس لهم اسم أو قال : نصيب في الإسلام

"Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam." (As Sunnah, milik al-Khalal:  2/557)

Ibnu katsir berkata saat menafsirkan firman Allah Ta'ala:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الفتح/29]

" Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar."

Beliau berkata: "Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik –rahmat Allah terlimpah kepadanya-, beliau mengambil kesimpulan tentang kekafiran Rafidhah yang membenci para shahabat Radhiyallahu 'Anhum. Beliau berkata: "Karena mereka ini membenci para shahabat, dan barangsiapa membenci para shahabat, maka ia telah kafir berdasarkan ayat ini." Pendapat ini disepakati oleh segolongan ulama radhiyallahu 'anhum." (Tafsir Ibnu Katsir: 4/219)[i]
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:

لقد أحسن مالك في مقالته وأصاب في تأويله فمن نقص واحداً منهم أو طعن عليه في روايته فقد رد على الله رب العالمين وأبطل شرائع المسلمين

"Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik itu dan benar penafsirannya. Siapa pun yang menghina seorang dari mereka (sahabat Nabi) atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan alam semesta dan membatalkan syari'at kaum Muslimin." (Tafsir al-Qurthubi: 16/297)

Kedua: Imam Ahmad

Banyak riwayat telah datang darinya dalam mengafirkan golongan Syi'ah Rafidhah. Di antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: "Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan 'Aisyah?" Beliau menjawab,

ما أراه على الإسلام

"Aku tidak melihatnya di atas Islam."

Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata:

من شتم أخاف عليه الكفر مثل الروافض

"Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah." Kemudian beliau berkata:

من شتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم لا نأمن أن يكون قد مرق عن الدين

"Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah keluar dari Islam (tanpa disadari)." (Al-Sunnah, Al-Khalal: 2/557-558)

Al-Khalal berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hambal menyampaikan kepadaku, katanya: "Saya bertanya kepada ayahku perihal seseorang yang mencela salah seorang dari Shahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Maka beliau menjawab:

ما أراه على الإسلام

"Aku tidak melihatnya di atas Islam"." (Al-Sunnah, Al-Khalal: 2/558. Bacalah: Manaakib al Imam Ahmad, oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 214)

Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang golongan Rafidhah:

هم الذين يتبرأون من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ويسبونهم وينتقصونهم ويكفرون الأئمة إلا أربعة : علي وعمار والمقداد وسلمان وليست الرافضة من الإسلام في شيء

"Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari shahabat Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar, Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini sama sekali bukan Islam." (Al-Sunnah, milik Imam Ahmad: 82)
Ibnu Abdil Qawiy berkata: "Adalah imam Ahmad mengafirkan orang yang berlepas diri dari mereka (yakni para sahabat) dan orang yang mencela 'Aisyah Ummul Mukminin serta menuduhnya dengan sesuatu yang Allah telah membebaskan darinya, seraya beliau membaca:

يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Allah menasehati kamu, agar kamu jangan mengulang hal seperti itu untuk selama-lamanya, jika kamu benar-benar beriman." (QS. Al-Nuur: 17. Dinukil dari Kitab Maa Dhahaba Ilaihi al-Imam Ahmad: 21)

Ketiga: Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H)

Beliau berkata:

ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي ، أم صليت خلف اليهود والنصارى ولا يسلم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

"Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah) atau seorang Rafidzi (beraliran Syi'ah Rafidhah), atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka." (Khalqu Af'al al-Ibad: 125)

Keempat: Abdurrahman bin Mahdi

Imam al-Bukhari berkata: Abdurrahman bin Mahdi berkata: "Keduanya adalah agama tersendiri, yakni Jahmiyah dan Rafidhah (Syi'ah)." (Khalqu Af'al al-Ibad: 125)

Kelima: Al-Faryabi

Al-Khalal meriwayatkan, ia berkata: "Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail al- Kirmani, ia berkata: "Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami, ia berkata: "Saya mendengar al-Faryabi dan seseorang yang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya: "Dia Kafir." Lalu ia berkata: "Apakah orang semacam itu boleh dishalatkan jenazahnya?" Jawabnya: "Tidak." Dan aku bertanya pula kepadanya: "Apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?" Jawabnya: "Jangan kamu sentuh (Jenazahnya) dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu menurunkan ke liang lahatnya." (al-Sunnah, milik al-Khalal: 2/566)

Keenam: Ahmad bin Yunus

Kunyahnya adalah Ibnu Abdillah. Ia dinisbatan kepada datuknya, yaitu salah seorang Imam (tokoh) As-Sunnah. Beliau termasuk penduduk Kufah, tempat tumbuhnya golongan Rafidhah. Beliau menceritakan perihal Rafidhah dengan berbagai macam alirannya. Ahmad bin Hambal telah berkata kepada seseorang: "Pergilah anda kepada Ahmad bin Yunus, karena dialah seorang Syeikhul Islam."
Para ahli Kutubus Sittah telah meriwayatkan Hadits dari beliau. Abu Hatim berkata: "Beliau adalah orang kepercayaan lagi kuat hafalannya". Al-Nasaai berkata: "Dia adalah orang kepercayaan." Ibnu Sa'ad berkata: "Dia adalah seorang kepercayaan lagi jujur, seorang Ahli Sunnah wal Jama'ah." Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa Ibnu Yunus telah berkata: "Saya pernah datang kepada Hammad bin Zaid, saya minta kepada beliau supaya mendiktekan kepadaku sesuatu hal tentang kelebihan Utsman. Jawabnya: "Anda ini siapa?" Saya jawab: "Seseorang dari negeri Kufah." Lalu ia berkata: "Seorang Kufah menanyakan tentang kelebihan-kelebihan Utsman. Demi Allah, aku tidak akan menyampaikannya kepada Anda, kalau Anda tidak mau duduk sedangkan aku tetap berdiri!" Beliau wafat tahun 227 H. (Tahdzibut Tahdzib, 1:50, Taqribut Tahdzib, 1:29).

Beliau (Ahmad bin Yunus) rahimahullah berkata,

لو أن يهودياً ذبح شاة ، وذبح رافضي لأكلت ذبيحة اليهودي ، ولم آكل ذبيحة الرافضي لأنه مرتد عن الإسلام

"Seandainya saja seorang Yahudi menyembelih seekor kambing dan seorang Rafidhi (Syi'i) juga menyembelih seekor kambing, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau makan sembelihan si Rafidhi. Karena dia telah murtad dari Islam." (Al-Sharim al-Maslul, Ibnu Taimiyah: 57)

Ketujuh: Al-Qadhi Abu Ya'la

Beliau berkata, "Adapun Rafidhah, maka hukum terhadap mereka . . . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk neraka, maka orang semacam ini adalah kafir." (Al Mu'tamad, hal. 267)
. . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk neraka, maka orang semacam ini adalah kafir. . .
Sementara Rafidhah (Syi'ah) sebagaimana terbukti di dalam pokok-pokok ajaran mereka adalah orang-orang yang mengkafirkan sebagian besar Shahabat Nabi. Silahkan baca kembali tulisan yang telah kami posthing:
Kitab Syi'ah Melaknat dan Mengafirkan Abu Bakar, Umar dan 'Aisyah

Kedelapan: Ibnu Hazam al-Zahiri
Beliau berkata: "Pendapat mereka (Yakni Nashrani) yang menuduh bahwa golongan Rafidhah (Syi'ah) merubah Al-Qur'an, maka sesungguhnya golongan Syi'ah Rafidhah bukan termasuk bagian kaum muslimin. Karena golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Syi'ah Rafidhah adalah golongan yang mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan kebohongan dan kekafiran." (Al-fashl fi al-Milal wa al-Nihal: 2/213)[ii]

Beliau berkata: "Salah satu pendapat golongan Syi'ah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah Al-Qur'an itu sesungguhnya telah diubah."

Kemudian beliau berkata: "Orang yang berpendapat, bahwa Al Qur'an ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan men-dustakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.(Al Fashl: 5/40)
Beliau berkata: "Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus Sunnah, Mu'tazilah, Murji'ah, Zaidiyah, bahwa adalah wajib berpegang kepada Al Qur'an yang biasa kita baca ini " Dan hanya golongan Syi'ah ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik, menurut pendapat semua penganut Islam. Dan pendapat kita sama sekali tidak sama dengan mereka (Syi'ah). Pendapat kita hanyalah sejalan dengan sesama pemeluk agama kita." (Al Ihkam Fii Ushuuli Ahkaam: 1/96)

Beliau berkata pula: "Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah menyembunyikan satu kata pun atau satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak melihat adanya keistimewaan pada manusia tertentu, baik anak perempuannya atau keponakan laki-lakinya atau istrinya atau shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada umat manusia. Sekiranya Nabi menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan kepada manusia, berarti beliau tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al Fashl, 2:274-275)
Orang yang berkeyakinan semacam ini dikafirkan oleh Ibnu Hazm. Dan keyakinan semacam ini dipegang oleh Syi'ah Itsna Asy'ariyah. Pendapat ini dikuatkan oleh guru-guru beliau pada masanya dan para ulama sebelumnya.

Penutup
Dan Masih banyak lagi perkataan-perkataan para ulama yang sangat tegas terhadap Syi'ah Rafidhah yang memiliki keyakinan berbeda dari aqidah kaum muslimin dan menyimpang dari ketentuan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Rasanya tidak ada habisnya menjelaskan keyakinan batil golongan syi'ah, baik dari ulama terdahulu maupun belakangan. Namun sayang kenapa banyak manusia bisa disesatkan dan tertarik kepada ajaran yang sangat jelas kebatilannya. Semoga Allah melindungi kita dan kaum mukminin secara keseluruhan dari jerat dan tipu daya golongan Syi'ah Rafidhah. [PurWD/voa-islam.com] 2012/01/06




Sumber & Catatan kaki :  nahimunkar.com
Judul Asli : Fatwa 8 Ulama yang Mengkafirkan Syi'ah Rafidhah
_________________________________________________
[i]   تفسير ابن كثير – (ج 7 / ص 362)
{ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ } .
ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. والأحاديث في فضائل الصحابة والنهي عن التعرض لهم بمساءة كثيرة  ، ويكفيهم ثناء الله عليهم، ورضاه عنهم.
 [ii]    الفصل في الملل – (ج 2 / ص 65)
وأما قولهم في دعوى الروافض تبديل القراءات فإن الروافض ليسوا من المسلمين إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه و سلم بخمس وعشرين سنة وكان مبدؤها إجابة من خذله الله تعالى لدعوة من كاد الإسلام وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر وهي طوائف أشدهم غلوا يقولون بالهية علي بن أبي طالب والآلهية جماعة معه وأقلهم غلوا يقولون أن الشمس ردت على علي بن أبي طالب مرتين فقوم هذا أقل مراتبهم في الكذب أيستشنع منهم كذب يأتون به وكل من يزجره عن الكذب ديانة أو نزاهة نفس أمكنه أن يكذب ما شاء وكل دعوى بلا برهان فليس يستدل بها عاقل سواء كانت له أو عليه ونحن أن شاء الله تعالى نأتي بالبرهان الواضح الفاضح لكذب الروافض فيما افتعلوه من ذلك

0 comments:

Post a Comment